Kabar Terbaru

Informas

Bagaimana cara menggunakan obat di bulan Ramadhan ?

kebersihan

Bagaimana cara menggunakan obat di bulan Ramadhan ?

Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas Muslim, yaitu sebesar 87.2% (Badan Pusat Statistik, Sensu Penduduk, 2010). Bulan Ramadhan adalah bulan suci bagi umat Muslim, dimana setiap muslim diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh.

Karena keutamaan bulan suci Ramadhan, meskipun terdapat keringan bagi mereka yang sedang sakit, banyak masayarakat yang mengusahakan untuk tetap melakukan ibadah Ramadhan seperti puasa. Untuk itu diperlukan informasi komprehensif terkait penggunaan obat ketika kita berpuasa.

Referensi:

  1. Fatwa MUI no 2539 tahun 2004.
  2. Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad
  3. Prof. Zullies Ikawati, Apt, guru besar Farmasi UGM.
  4. haloapoteker.id

Tidak semua penggunaan obat membatalkan puasa, yaitu dalam bentuk yang tidak diminum melalui mulut dan masuk saluran cerna. Dalam sebuah seminar medis-religius dengan tema “An Islamic View of Certain Contemporary Medical Issues” yang diselenggarakn di Maroko tahun 1997, para ahli medis maupun agama sepakat bahwa beberapa bentuk sediaan obat di bawah ini tidak membatalkan puasa, antara lain :

  • - Tetes mata dan telinga
  • - Obat- obat yang diabsorpsi melalui kulit (salep, krim, plester)
  • - Obat yang digunakan melalui dubur atau vagina (suppositoria, dll)
  • - Obat- obat yang disuntikkan baik melalui kulit, otot, sendi dan vena, kecuali pemberian makanan via intravena
  • - Pemberian gas oksigen dan anestesi
  • - Obat yang diselipkan di bawah lidah/ sub lingual (contoh : nitrogliserin untuk angina pectoris)
  • - Obat kumur, sejauh tidak atertelan

1. Q : Bagaimana penggunaan obat minum saat kita puasa?

A : Jadwal waktu minum obat mau tidak mau harus berubah saat bulan Ramadhan untuk yang sedang mengkonsumsi obat namun ingin tetap berpuasa. Obat hanya bisa diminum selepas puasa hingga sebelum subuh saat sahur. Perubahan jadwal waktu minum obat mungkin dapat mempengaruhi nasib obat dalam tubuh atau dalam istilah farmasi kita kenal dengan farmakokinetika obat, yang nantinya dapat mempengaruhi efek terapi obat. Karena itu perlu kehati- hatian dalam mengubah jadwal minum obat.

Konsultasikan dengan dokter atau apoteker anda. Untuk obat- obat yang diminum seklai sehari, dan kebetulan diminum pada malam hari tentu tidak ada perbedaan yang berarti ketika digunakan saat bulan Ramadhan. Demikian pula yang diminum sekali sehari pagi hari, dapat diminum saat sahur tanpa perubahan efek yang signifikan. Sedangkan untuk obat yang digunakan 2 kali sehari, disarnakan untuk diminu pada saat sahur dan saat buka.

2. Q : Bagaimana dengan obat yang harus diminum 3-4 kali sehari?

A : Untuk pasien yang mendapatkan obat-obat yang harus diminum 3 kali sehari disarankan untuk minta kepada dokternya untuk meresepkan obat bentuk sediaan lepas lambat atau aksi panjang sehingga frekuensi pemakaian bisa dikurangi menjadi sekali atau 2 kali sehari. Atau bisa juga minta diganti dengan obat lain yang masih memiliki efek dan mekanisme sama, tetapi memiliki durasi aksi yang lebih panjang. Sebagai contohnya, obat hipertensi kaptopril yang harus diminum 2-3 kali sehari dapat digantikan oleh lisinopril yang digunakan sekali sehari. Atau misalnya ibuprofen, suatu obat anti radang, bisa digantikan dengan piroxicam atau meloxicam yang bisa diminum sekali sehari.

Jika tidak bisa diganti, maka penggunaannya adalah dari waktu buka puasa hingga sahur, yang sebaiknya dibagi dalam interval waktu yang sama. Misalnya untuk obat dengan dosis 3 kali sehari, maka dapat diberikan dengan interval waktu 5 jam, yaitu pada sekitar pukul 18.00 (saat buka puasa), pukul 23.00 (menjelang tengah malam), dan pukul 04.00 (saat sahur). Obat yang harus diminum 4 kali sehari dapat diberikan dalam interval 3-4 jam, yaitu pada pukul 18.00, pukul 22.00, pukul 01.00 dan pukul 04.00. Tentu waktunya harus disesuaikan dengan jadwal imsakiah setempat. Sebagian besar obat dapat diubah jadwalnya seperti ini tanpa mengubah efek terapinya secara signifikan, termasuk penggunaan antibiotika. Kelihatannya agak sulit jika harus minum obat di malam hari, tetapi ini adalah waktu yang bisa memberikan efek optimal. Jika perlu gunakan alarm untuk membangunkan tidur.

3. Q : Bagaimana dengan penggunaan obat sebelum dan sesudah makan?

A : Obat dapat berinteraksi dengan makanan, yang berarti adanya makanan dapat mempengaruhi efek obat. Ada obat-obat yang baik digunakan sebelum makan karena absorpsinya lebih baik pada saat lambung kosong, dan ada yang sebaliknya, diminum setelah makan karena dapat menyebabkan iritasi lambung atau lebih baik penyerapannya jika ada makanan. Selama bulan Ramadhan, perhatikan pula aturan minum obatnya, apakah sesudah atau sebelum makan.

Jika aturannya 1 kali sehari sebelum makan : obat bisa diminum pada saat sahur (setengah jam sebelum makan) atau pada saat berbuka (setengah jam sebelum makan). Gunakan sesuai anjuran, apakah biasanya pagi atau malam. Obat hipertensi misalnya, baiknya diminum pagi hari karena tekanan darah paling tinggi pada pagi hari. Sebaliknya, obat penurun kolesterol sebaiknya diminum malam hari. Usahakan konsisten dengan waktu minumnya, apakah pagi atau malam.

Jika aturannya 1 kali sehari setelah makan, maka obat bisa diminum pada waktu seperti di atas, hanya saja diminumnya kira-kira 5-10 menit setelah makan besar. Setelah makan artinya kondisi lambung berisi makanan.

Untuk penggunaan 2,3 atau 4 kali sehari, pada prinsipnya sama, seperti yang dijelaskan di atas mengenai jam minum obat. Jika diminta sebelum makan berarti sekitar 30 menit sebelum makan. Jika ada obat yang harus diminum tengah malam sesudah makan, maka perut dapat diisi dulu dengan roti atau sedikit nasi sebelum minum obat.

4. Q : Penggunaan obat pada penyakit kronis di bulan Ramadhan

A : Beberapa penyakit kronis memerlukan pengobatan terus-menerus, seperti penyakit diabetes, epilepsi, asma, dan hipertensi. Untuk mereka yang tetap ingin berpuasa, perlu dilakukan pemantauan yang lebih ketat terkait dengan perubahan jadwal pemberian obatnya dan kondisi penyakitnya. Berikut akan diulas penggunaan obat dan pemantauan terapi pada penyakit-penyakit kronis tersebut.

  • a. Diabetes Melitus (kencing manis)

    Secara umum, puasa tidak disarankan bagi penderita diabetes, karena berisiko mengalami hipoglikemia (kurangnya kadar guka darah) pada saat puasa, atau sebaliknya hiperglikemia (kelebihan kadar gula darah) pada saat berbuka puasa. Obat golongan sulfonilurea seperti glibenklamid, gliklazid, dan glimepirid memiliki risiko efek samping hipoglikemi yang besar, sehingga kurang direkomendasikan bagi pasien diabetes. Sebagai gantinya, pasien dapat menggunakan obat metformin 3 kali sehari, yang pada saat puasa harus diminum 2 dosis pada saat buka puasa dan satu dosis pada saat sahur. Obat semacam acarbose juga relatif aman untuk penderita diabetes, karena kurang menyebabkan hipoglikemi.

    Pasien yang tetap menggunakan obat golongan sulfonilurea sekali sehari sebaiknya meminumnya saat buka puasa sebelum makan. Sedangkan untuk yang dua kali sehari, maka obat diminum satu dosis pada saat buka puasa dan setengah dosis pada saat sahur. Namun demikian ada pula ahli yang menyarankan untuk tidak mengkonsumsi obat pada saat sahur karena dikuatirkan mengalami hipoglikemi jika pasien berpuasa. Pada pasien yang menggunakan insulin premix atau aksi sedang 2 kali sehari, perlu dipertimbangkan perubahan ke insulin aksi panjang atau sedang pada sore hari dan insulin aksi pendek bersama makan. Gunakan dosis biasa pada saat berbuka dan setengah dosis pada saat sahur. Usahakan banyak minum pada saat tidak berpuasa untuk menghindari dehidrasi. Pemantauan kadar gula sebaiknya dilakukan lebih kerap dari biasanya. Jika kadar gula turun di bawah 60 mg/dL, pasien disarankan segera berbuka puasa. Juga jika kadar gula terlalu tinggi (> 300 mg/dL), pasien disarankan tidak berpuasa.

  • b. Pasien hipertensi, asma dan epilepsi

    Pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi, asma dan epilepsi yang harus menggunakan obat secara teratur dapat tetap berpuasa, dengan mengatur waktu minum obatnya pada saat berbuka dan sahur. Minta kepada dokter untuk memberikan obat-obat yang bersifat aksi panjang sehingga cukup diminum sekali atau dua kali sehari. Secara umum kondisi harus tetap dijaga dengan mengatur makanan, misalnya mengurangi garam atau lemak, banyak minum air putih, olah raga secara cukup. Pasien asma dengan penggunaan inhaler secara teratur dapat menggunakan inhalernya pada saat setelah waktu buka puasa dan pada saat sahur.

    Namun jika diperlukan penggunaan inhaler pada saat serangan akut di siang hari, pasien dapat membatalkan puasanya. Pasien hipertensi perlu memantau tekanan darahnya lebih kerap pada bulan puasa daripada bulan tidak puasa.

    Demikian sekilas tentang penggunaan obat pada saat bulan Ramadhan. Sekali lagi Islam membolehkan orang yang sakit untuk tidak berpuasa. Jika sakit Anda cukup berat dan ingin berpuasa, konsultasikan pada dokter Anda apakah boleh berpuasa atau tidak. Tidak perlu memaksakan diri berpuasa jika fisik tidak mengijinkan.

5. Q : a. Mata saya merah dan oleh dokter saya diberi obat tetes mata. Apakah penggunaan obat tetes mata ini membatalkan puasa saya?

b. Apa hukum masuknya sisa larutan pembersih lensa kontak – yang berupa cairan antibiotika – ke dalam mata, yang memungkinkan cairan dari mata masuk ke didung dan tenggorokan?

Kedua pertanyaan ini merupakan kasus yang hampir sama.

A : Para Ulama berbeda pendapat mengenai hukum penggunaan obat tetes mata bagi orang yang berpuasa. Para ulama Hanafiyah- dalam pendapat yang ashah – berpendapat bahwa obat tetes mata tidak membatalkan puasa. Menerut mereka, penggunaan obat tetes mata tidak bertentangan dengan tujuan utama puasa, yaitu menahan diri dari makanan dan minuman. Meskipun pada saat penggunaan obat tetes mata bisa terjadi menemukan rasa obat di tenggorokan. Selain itu, karena menurut mereka mata tidak termasuk lubang yang terbuka.

Para Ulama Malikiyah dan Hanabila berpendapat bahwa obat tetes mata membatalkan puasa bila obat sampai menimbulkan rasa ke tenggorokan. Hal itu karena, menurut mereka, mata adalah termasuk lubang terbuka, meskipun tidak umum.

Pendapat yang kami pilih adalah bahwa tetes mata tidak membtalkan puasa, meskipun sampai ke tenggorokan. Hal itu karena mata tidaklah termasuk lubang terbuka. Sedangkan keberadaan obat tetes mata tersebut di tenggorokan tidak berarti bahwa mata adalah organ yang menjadi pintu masuk benda ke dalam tubuh karena bisa saja benda tersebut masuk ke dalam tenggorokan melalui jalan lain seperti kulit.

6. Q Apa hukum penggunaan krim pelembab, minyak rambut dan salep yang dapat memberi konsumsi gizi dan nutrisi pada akar dan kulit rambut?

A : Memperhatikan Fatwa MUI no 2539 tahun 2004

Para Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah serta Syaikh ad Dardir – salah seorang ulama Malikiyah -- berpendapat bahwa minyak rambut, krim rambut atau perut tidak membatalkan puasa meskipun sampai ke dalam rongga tubuhnya melalui pori- pori. Hal itu karena krim tersebut tidak sampai ke dalam rongga tubuh melalui lubang terbuka. Selain itu, hal tersebut tidak bertentangan dengan tujuan utama puasa, karena ia merupakan bentuk mengambil manfaat (irtifaaq) dari sesuatu, dan tidak termasuk dalam hal- hal yang dilarang dalam puasa. Hal itu sebagaimana yang diungkapkan oleh alMarghinani dam al Hidayah.

Sedangkan para Ulama Malikiyah berpendapat bahwa jika orang yang menggunakan krim tersebut mendapati rasanya di tenggorokannya, maka ia harus mengqadha’ puasanya itu. Ini adalah pendapat yang terkenal dalam mazhab Maliki, karena mengikuti kaedah “Sampainya benda cair ke tenggorokan dianggap membatalkan puasa meskipun tidak masuk melalui mulut.”

Pendapat yang diambil adalah pendapat ulama Syafi’iyah dan Hanafiyah yang mengatakan bahwa krim tidak membatalkan puasa yang didasarkan pada dalil- dalil yang kuat yang mereka sebutkan.

7. Q : Apa hukum suntikan, baik yang berfungsi sebagai anestesi, penyuntikan obat antibiotika ataupun yang lainnya?

A : Penggunaan suntikan/ injeksi serta penggunaan infus (Saline, Glucose atau Manitol) maka semua itu tidak membatalkan puasa karena tidak masuk ke dalam rongga melalui lubang terbuka. Suntikan atau infus tersebut masuk melalui kulit ke pembuluh darah sehingga terserap oleh kulit. Sementara tidak ada perbedaan antara masuk dengan cara diserap kulit atau melalui suntikan.



- Marina Kurniawati, M.Sc., Apt (SDI)